Design a site like this with WordPress.com
Get started

Bagi Rapot – Satu Semester #11

Lebaran sudah berlalu. Meskipun aku tidak bisa pulang kampung, namun aku tetap bisa merayakan hari lebaran bersama keluarga inti ku dan juga tetangga ku, karena mereka juga tidak mudik. Biasanya, seperti lebaran tahun kemarin, 75% dari penduduk yang ada di sekitar tempat tinggal ku pulang kampung.

Sayangnya, ada sebagian orang yang tidak mengikuti protokol kesehatan saat solat Idul Fitri. Sosialisasi yang dilakukan pemerintah sepertinya sudah cukup, ini adalah masalah kemauan masyarakat. Mau mengikuti protokol kesehatan, atau tidak.

Hari ini aku akan bercerita pengalamanku mengenai bagi rapot, yang dilakukan setelah lebaran usai. Jadwal bagi rapot tersebut tidak terlalu jauh dengan lebaran, hanya sekitar 1 Minggu setelahnya.

Hari yang ditunggu oleh para murid tiba. Anak-anak sangat bersemangat, karena akan bertemu dengan temannya. Ada juga sih yang tidak bersemangat, karena mereka sudah berkumpul sebelumnya. Aku diberikan pengumuman oleh wali kelas ku, bahwa pembagian kelas akan dilakukan secara 2 gelombang per 1 kelas. Setiap gelombang tidak boleh lebih dari 18 orang.

Aku masuk di gelombang kedua. Ternyata, tidak semua murid yang masuk gelombang pertama sudah mengambil rapot, justru, malah lebih banyak murid yang mendapat golongan kedua sudah mengambil rapot.

Berarti percuma ditetapkan gelombang pertama dan kedua, nyatanya pada saat pelaksanaan tidak menggunakan urutan berdasarkan gelombang. Oiya, aku juga lihat, bahwa masih banyak dari murid maupun orang tua nya yang tidak menerapkan protokol kesehatan.

Protokol kesehatan yang dimaksud, ya sudah jelas, memakai masker dan jaga jarak. Yang paling susah untuk diterapkan (di sekolah) adalah jaga jarak. Mengapa? Karena urutan pengambilan rapot tidak diatur, sehingga berlaku hukum “siapa cepat dia dapat”. Sebetulnya tidak masalah, namun karena kondisi sedang pandemi, hal itu menjadi masalah yang cukup rumit.

Ada juga beberapa murid yang memakai masker, namun bagian hidungnya tidak tertutup, hanya menutup mulut. Memang sih, sudah mengikuti aturan, yakni memakai masker. Namun lubang hidung tidak tertutup, sehingga bisa saja virus masuk dari hidung yang tidak tertutup masker.

Memang sih, tidak ada yang menjamin “jika anda memakai masker secara benar, maka anda terlindung dari virus 100%”. Tapi setidaknya kita berusaha untuk melindungi diri. Jika sudah menerapkan protokol kesehatan, namun terkena virus, maka itu bukan kekuasaan anda lagi. Ini kekuasaan Tuhan.

Kalimat di atas kok kayanya terlalu resmi ya? Ini menurut aku doang atau menurut kalian juga begini? Hmm ok sampai sini dulu ya ceritanya, nanti dilanjutin di seri berikutnya. Byee!

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

%d bloggers like this: