Design a site like this with WordPress.com
Get started

4 sekolah

Tahun ini aku naik ke kelas 10. Maka dari itu definisi ‘masuk sekolah’ bukanlah “pergi ke sekolah dengan membawa tas” layaknya murid pada umumnya, melainkan “pindah sekolah”. Karena tahun ini pemerintah masih menggunakan sistem zonasi, aku tidak bisa masuk ke sekolah yang berada di sekitar rumah. Sebetulnya, jarak sekolahnya hanya sekitar 1.7km, namun karena banyak peminatnya, kemungkinannya tipis.

Memilih SMA yang tepat sangatlah penting, agar bisa mendapatkan jatah undangan dari PTN favorit di Indonesia. Selain itu, ‘katanya’ teman SMAlah yang akan menjadi teman paling setia karena masa SMA adalah masa2 yang menyenangkan. Idk if that’s true, or perasaan yang dimiliki mahasiswa yang rindu masa lama.

Orang-orang rela masuk sekolah negeri favorit ketika jenjang SMA, meskipun mereka awalnya dari SMP swasta mahal (sebut saja labschool, penabur dll). Alasannya ‘karena beasiswa (terutama didalam negeri) banyak ditawarkan di sekolah negeri unggul’. Alhasil, walaupun mostly zonasi, banyak yang mengakali dengan ikut jalur prestasi dgn mengikuti lomba apapun selama menghasilkan sertifikat. 2/3 tahun lalu trik itu bekerja, namun pada akhirnya Kemendikbud mengubah aturannya pada PPDB 2020, dimana sertifikat yg bisa dimasukkan hanya yg diakui pemerintah. You know where this one going to right?

Satu tahun lalu ketika masih Kelas 9, saya mengikuti Kompetisi Sains Madrasah bidang sosial (not OSN, because lawannya nerd kabeh xD), dan berhasil memenangkan medali perunggu tingkat nasional. Sertifikat ini ternyata bisa menjadi pintu ke mana saja. Bukannya satir/sarkas, tapi memang benar. Dengan sertifikat yang dikeluarkan Kemenag ini, teorinya (diatas kertas) aku bisa masuk di berbagai sekolah negeri di indonesia, asalkan ada jalur prestasinya (except Jakarta yang hanya mau menerima siswa dari daerahnya sendiri).

MAN IC Serpong

Bulan Maret 2022, aku mendaftar di MAN IC Serpong, salah satu MA yang (katanya) terbaik di Indonesia menurut nilai SBMPTN beberapa tahun terakhir. MAN IC Serpong adalah sekolah berasrama yang dibuat oleh Mantan Presiden RI ke-3, B.J Habibie (alm) sekitar tahun 2003an. Awalnya sekolah ini pembiayaannya full gratis, karena tujuannya in a nutshell adalah ‘memberikan pendidikan bagus bagi orang yang kurang mampu/biasa-biasa saja namun pintar’. Setelah tahun 2017 sekolah ini menjadi berbayar, kecuali ongkos pendidikannya. They said “karena banyak yang masuk orang pintar, dan orang pintar biasanya mempunyai backup duit yang powerful. Jika ingin masuk tapi gratis, tunjukkan KIP dan pendapatan orang tua dibawah UMR” (btw kalimat kedua itu exaggeration aja, tp itulah kenyataannya)

Bedanya MA dengan SMA terletak di kurikulum agamanya (yg lebih spesifik ke Islam), selebihnya sama saja dengan SMA pada umumnya. As far as i know integrasinya ngga terlalu klop juga (kayak sekolah IT yg mtknya pun soal ekonomi syariah) tapi ya memadai (maybe kaya MTs, i dunno)

Proses seleksi masuk sekolah ini tidaklah mudah. Karena menjadi salah satu sekolah bergengsi di Indonesia, peminatnya pun dari seluruh Indonesia. Syarat yang diminta ketika PPDB ribet, walaupun bisa dipenuhi dengan cepat jika teliti dan cermat.

Kalau kamu sering stalking akun ig tentang beasiswa/lomba, pasti nemu aja tuh promo ‘bimbel masuk IC jalur tes demi masa depan anak’. Segitu tingginya status sekolahnya, kayak mau masuk PTN ajah

Beberapa siswa teman dari MTs saya juga mengikuti tes regulernya. Sayangnya, tidak ada satupun dari mereka yang lolos. Dari sekitar 8000an orang yang daftar, hanya 140 yang akan diterima dari jalur tes. Memang, kuotanya sedikit by design.

Setelah lolos bersama dengan 13 orang yang lain dari jalur prestasi, para calon siswa baru ini dikumpulkan di sebuah grup WhatsApp bersama orang tuanya, untuk kepentingan info daftar ulang. Syarat pertama yang mereka berikan adalah untuk mengirimkan berkas tambahan (pas foto dll) melalui pos, lantas melakukan tes kesehatan. Mengisi formulir ini serasa mengisi form bikin ktp, saking detailnya dokumen yang diminta. Kalo penasaran look at persyaratan daftar ulang man ics

Karena waktu itu musim ujian, pihak IC memperbolehkan calon siswa untuk menunda tes kesehatan (medical checkup). Daftar ulang yang telah dijadwalkan, berubah menjadi wawancara satu per satu. Dalam artian, setiap calon siswa bersama dengan orang tua melakukan meeting online dengan panitia untuk ditanya berbagai macam hal.

Waktu yang ditunggu-tunggu tiba. Pewawancaranya adalah seorang profesor yang sedang berada di Houston. Dalam hati, aku berkata, sangat dedikasi sekali bu prof ini, malem2 di US mau wawancara orang yang berada di penghujung Serang Banten ini.

Di wawancara ini, bu profesor memberitahu detail tentang biaya yang akan dikeluarkan. Ngomong tentang juta-juta sangatlah lancar. Setelah dihitung-hitung, baru masuk saja sudah memakan uang sekitar 20 juta rupiah. Sebetulnya, dari panitia sendiri sudah memberikan banyak kemudahan, seperti ditiadakan sumbangan (sunah tp kalau ga ngasih gimana gitu).

Setelah wawancara selesai, aku berdiskusi dengan orang tuaku tentang “biaya sosial”. Yap, walaupun nanti katanya ada subsidi dari ‘komite’, tetap saja kalau lingkungan tempat kita tinggal isinya orang kayah semua ya lifestylenya juga kayah. Walaupun di asrama. Apalagi lokasinya di serpong, setelah mencoba memakai angkutan umum tidak bisa dicapai dengan mudah, harus menggunakan taksi online. So.. Akhirnya kami sepakat untuk cancel.

Disclaimer: Cerita ini dibuat dengan rentang waktu yang cukup lama, dari sejak bulan Mei sampai Agustus, jadi bermacam-macam gaya penulisan ada di sini.

SMAN CMBBS

SMA yang terletak di Pandeglang, Banten ini adalah sebuah sekolah menengah yang dibuat oleh Pemerintah Provinsi Banten sekitar tahun 2005. Tujuannya ya menyaingi sekolah unggul lainnya mencerdaskan anak Banten setelah menjadi Provinsi berdikari pada tahun 2000. Dari MTs ku ada sekitar 10 orang yang ingin masuk sekolah bergengsi ini, termasuk saya.

First impression di sekolah ini ya umm agak (maaf) kurang ramah. Setelah naik ojek dan turun di depan asrama putri, penjaga asrama tidak terlihat tertarik, padahal saya hanya ingin bertanya di mana lokasi daftar ulang.

Kurang lebih seperti MAN IC, (katanya) kalo melalui tes itu sulit, karena yang dilawan anak pintar se-Banten (remember those smarty boi from Tangsel). Seperti ketika ICS, aku melewati jalur prestasi, sehingga bisa diterima dengan lancar. Tibalah saatnya untuk melakukan tes kesehatan, sebagai salah satu dari syarat daftar ulang.

Tes kesehatannya bisa dilakukan di rumah sakit terdekat. Tesnya meliputi banyak hal, termasuk tes darah, urin, fisik, dan sebagainya. At least orang tua calon siswa baru ini sibuk di grup WA, menanyakan dimana tempat untuk melakukan medical checkup yang murah, tidak seperti ICS, yg ortunya hanya menjawab ‘baik untuk medcheck apa tidak sebaiknya di RS swasta saja, soalnya RS negeri banyak pasien covid, takut anak saya tertular’. Jelas-jelas medcheck di swasta biayanya lebih tinggi.

Salah satu dari ortu calon murid ini adalah seorang dokter di RS Kencana Serang yang letaknya tidak terlalu jauh, yakni di pusat Kota Serang. Dia mampu menawarkan harga 600rb-an untuk medcheck full sesuai dengan persyaratan yang diminta CM. Jika dibandingkan dengan ongkos medcheck di klinik swasta yang sekitar 1.2jutaan, tentu saja ini sangat menggiurkan. Bahkan banyak ortu yang rela jauh-jauh dari Cilegon ke Serang hanya untuk mendapatkan medcheck murah ini.

Proses medchecknya berlangsung singkat, karena aku mendatangi RS tersebut di hari kedua, dimana para orangtua dan murid yang ambis telah selesai medcheck di hari sebelumnya. Dimulai dari mengisi biodata, lantas diarahkan ke tempat pemeriksaan fisik. Di sana aku dicek tinggi & berat badan, tes buta warna, serta denyut nadi.

Setelah itu aku diarahkan untuk melakukan tes urin, diberikan sebuah tempat kecil (seperti tempat untuk salep), dan aku diminta untuk pipis di situ. Lalu aku juga disuntik untuk diambil darahnya. Karena saya sedang unlucky saat itu, jadi pas pertama kali di suntik di sebelah kiri, perawat yang menyuntik tidak menemukan nadinya, jadi walaupun sudah disuntik lantas ditarik lagi, dan dicoba lagi di tangan sebelah kanan.

Setelah itu, saya menuju ke ruang rontgen. Kebetulan saat itu juga saya bersama dengan seorang anak perempuan dari sekolah saya (namun tidak saya kenal karena beda kelas). Di ruang rontgen, aku diminta untuk membuka baju, dan menempelkan dada saya di sebuah alas besi.

ilustrasi ruang radiologi

Ada senter yang mengarah ke hadapan punggung saya, lantas terdengar bunyi jepretan kamera x-ray. Sedikit mengerikan, namun tentu saja tidak ada rasa sakit apapun.

Singkat cerita, 2 hari kemudian muncul hasilnya. Overall bagus dan dinyatakan siap serta mampu untuk tinggal di asrama. Namun jumlah leukosit di dalam tubuh saya melebihi ambang batas normal. Selain itu, terdapat kristal di urin (gejala asam urat). Hasil medcheck tetap kukirimkan sesuai prosedur yang diminta CM, namun akhirnya saya dan ortu sepakat untuk cancel.

I know, buang-buang time & resources. But daripada nanti ada apa-apa pas di asrama terus susah, mau gimana lagi?

SMAN 1 Ciruas & SMAN 1 Kota Serang

Hasil medcheck tadi mengubah semuanya. Rencana untuk masuk sekolah boarding dibatalkan sepenuhnya. Maka pilihan sekolah yang tersisa adalah sekolah negeri umum.

Sekolah yang terletak di dekat rumah adalah SMA negeri 1 Ciruas. Meskipun nomor 1, tapi karena sma ini adalah satu satunya di Kecamatan Ciruas, maka SMA ini menjadi ‘favorit’. Apalagi setelah diberlakukannya zonasi, SMA ini jadi satu-satunya tujuan orang Kecamatan Ciruas. Tidak terlalu wow sih, but memang bangunannya gede jika dibandingkan dengan sekolah unggulan di Serang, SMAN 1 Kota Serang (Smansa)

Dimulai dari jalur zonasi. Teman-teman saya sibuk mengurus administrasi yang merepotkan, mulai dari fotokopi skl, kartu keluarga, akte kelahiran, dan sebagainya. Pada kaget ketika aku bilang ‘guys saya di smancir ya, males jauh-jauh’. Reaksi macam-macam. Sampai saat pos ini ditulis, aku belum ketemu dengan guru/staf di MTs, karena takut ditanya-tanya soal ‘masuk mana’. Tapi tbh nanti juga akan ketemu pas cap 3 jari di ijazah.

Banyak yang tidak keterima jalur zonasi. Yang paling jauh rumahnya jaraknya 1.4 kilometer, turun jauh dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Padahal (katanya) sudah ada penambahan kelas akibat ortu yang nego2 di Dinas. Dampaknya ya, SMAnya overload.

Disclaimer 2: Cerita ini sudah long overdue, artinya sudah waaaay kelamaan ngga dipublish2. Dimulai dari paragraf bawah ini pls maklum kalau bahasanya berubah menjadi ‘mau buru-buru’ selesai.

Jalur prestasi sendiri adalah jalur ppdb yang paling terakhir dilaksanakan (at least di Banten begitu semua). Pagi hari ketika hari pendaftaran dibuka, to my surprise situsnya gak lag sama sekali. Sesampainya di form ppdb opsinya membingungkan, karena hanya menyediakan tombol Prestasi Akademik rapot atau prestasi non-akademik sertifikat/tahfidz. Karena membingungkan dan takut ga keterima, akhirnya saya memasukkan ke dua jalur itu, serta menyiapkan dua berkas yang persis sama untuk daftar ulang di kedua jalur. that’s crazy, but i need to do it.

Sebagai ‘jaring pengaman’ aku akhirnya memasukkan SMAN 1 Kota Serang (orang sini memanggilnya smansa) sebagai sebuah cadangan. Sebelumnya, sekolah ini ngga pernah menjadi pertimbangan, karena:

  1. Jauh, 9 kilometer dari rumah.
  2. Susah kesananya. Jika naik angkot, bisa sampe 1.5 jam nunggu mereka ngetem. Sementara jika naik motor, mana mungkin bisa, didepan sekolahnya ada Polres Serang. Naik ojek onlen? Tekor bandar wkwk
  3. Kualitasnya bagus, tapi (katanya) study tournya jauh-jauh, jadi istilahnya sekolah negeri tapi ‘banyak ongkos sus
  4. Ada beberapa anak titipan yang (again, katanya) bayar 30 juta untuk bisa masuk sekolah ini. Apalagi pas ppdb ini terciduk walkot Serang ingin ‘memasukkan orang miskin’. Jika memang niatnya mau membantu orang yang kesusahan, kenapa tidak ‘membuatkan KIP jalur ordal’. That’s a better option kalau memang niatnya membantu.

Karena jauh, ayah saya mesti izin dari kerja untuk mengurus daftar ulang ini. Apalagi bolak-balik ke Kota kan jauh. Btw, sistem pendaftarannya jauh lebih terstruktur dibandingkan dengan Smancir. Di pilihan prestasi akademik, ada tombol ‘sertifikat akademik‘ dimana saya bisa memasukkan nama & mengupload sertifikat secara resmi.

First glance di Smansa ketika verifikasi data ya biasa saja. Lapangannya cuman 2, sekolahnya sebesar SD, walaupun sampai 3 tingkat. Aulanya berada di lantai 2, tapi lantainya curam-curam, jadi agak membuat pegal ortu yang menemani anaknya daftar ulang sekolah. Ortunya pada makeup tebel + gelang emas 24 karat + mobil bagus-bagus. Anak-anaknya pun terlihat kul, kemejanya pada nyiu semua. Terlihat wajah-wajahnya adalah orang pendatang.

First glance di Smancir ketika verifikasi data: kurang ramah. Tidak ada arahan tempat yang menunjukkan dimana calon siswa mengambil antrian. Petugasnya bahkan belum datang padahal sudah hampir jam 8. Orang tua lain yang baru datang juga kebingungan dengan sistem antrian ini.

Singkat cerita (again biar ceritanya bisa berlanjut ga hanya di teknis) tibalah waktu pengumuman. di luar ekspektasi, yang lolos di zonasi tahun ini yg terjauh adalah 1.4km. Banyak teman saya sekelas yg tidak keterima, dan langsung sibuk mencari cara masuk smancir jalur apapun. Saya garis bawahi karena ternyata ada yg ingin masuk sekolah ini dari jalur duwit. Berbekal 5 juta anda bisa msuk sekolah ini. Tapi tentu saja rapot tetap akan dilihat, mengingat sekarang sistemnya serba onlen. walaupun sudah meminimalisir kemungkinan x seperti itu tapi tetap saja sekolah bisa mengakali didatabasenya. Bagaimana dengan jalur prestasi? Saya lolos menggunakan prestasi nilai rapot :V

Waktu daftar ulang yang sangat mepet membuat saya harus buru-buru membeli seragam putih abu. Beli di tohaga tentu saja mahal, jadi saya membelinya di salah satu toko di royal. Bagi yang nggak tau royal itu apa, well basically daerah royal itu pusat jual beli di kota serang. Seninnya langsung mulai masa pengenalan lingkungan sekolah (nama halus dari ospek). Lanjutannya ospek ya mulai sekolah.

So what? Yap, ceritanya sampai sini. Aku nggak ada niat lagi untuk pindah sekolah SMA. It’s done forever.

Kesimpulan

Apapun pilihan sekolah yang kamu ambil, tetap ingat dari mana kamu berasal (optional faktor duit). Irony tapi ya itu kenyataannya.

2 responses to “4 sekolah”

  1. […] Karena situasi yang tidak mendukung, akhirnya aku tidak jadi kesitu. Aku ceritakan pengalamannya di pos “4 sekolah“. […]

    Like

  2. Emas tetaplah emas, dimanapun berada. Tetap semangat dan rendah hati, Satria! Saya tahu kamu kelak akan menjadi orang hebat.

    Semangat untuk memulai langkah baru. ⚡️

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: